Don’t waste your time for explanations. People only hear what they want to hear. - Paulo Coelho
saya dibesarkan di sebuah rumah, dimana melakukan sesuatu yang baru tidak merupakan hal yang tabu. ayah saya selalu memaksa anak-anaknya untuk melakukan sesuatu yang, kalau bukan baru setidaknya bermanfaat.
ayah saya mengingatkan bahwa saya harus membedakan mana komprehensif dan mana bertele-tele. dan bahwa saya harus menjauhi bertele-tele. bahwa jangan pernah saya menjadikan berhati-hati alasan untuk tidak melakukan apa-apa. karena diam dibalik pemikiran yang bertele-tele lebih buruk dibanding bertindak buru-buru dengan mengandalkan perasaan. karena manusia tidak diingat oleh apa yang ia pikirkan, tapi apa yang ia lakukan.
ya, itu sampai saya bertemu dan memasuki sistem baru dimana berpikir ialah segalanya. bahwa kita harus punya alasan yang tepat untuk melakukan sesuatu. bahwa logis adalah satu-satunya pilihan.
setelah tiga tahun, saya mengakui bahwa keduanya benar. namun saya lebih suka dengan yang pertama. mengapa? saya sering menghela nafas ketika setiap kali akan berpikir, selalu menjadikan segalanya bertele-tele. seolah-olah semua harus dipikirkan. bukan berarti semua tidak dipikirkan, namun terkadang semua itu diartikan sebagai setiap hal, satu persatu, bagian per bagian. its like, how long do we think we have time to do that?
then again, its how we should, they said. kita itu planner. kita itu komprehensif. kita itu melihat semua aspek. bla bla bla. well, buat apa ada evaluasi kalau kita harus berpikir sampai sempurna? bukannya nggak penting ya, tapi apa iya nggak bisa efektif? karena sejauh ini, yang saya sering sekali lihat adalah ke-bertele-tele-an, bukan ke-komprehensif-an. dan it bugs me a little.
tapi ya, pada akhirnya kita begitu lagi. karena kita harus. karena apapun alasan kita, bukan itu yang dari dulu benar adanya. karena banyak hal yang kita pikirkan tidak selalu sama dengan apa yang semua pikirkan. karena mungkin, kita sudah nyaman ada di dalam pagar dan enggan melihat dunia. karena mungkin kita paling benar, diantara yang lainnya.
and maybe that’s the thing that held us back all this time.


